DUKUNG PENGHAPUSAN UN SEKOLAH DASAR DAN TINGGAL KELAS

Ratusan siswa SD Islam Al Fattah menggelar aksi di depan Stadion Manahan, Solo, Senin (9/12/2013). Aksi tersebut sebagai bentuk dukungan kepada Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tentang penghapusan Ujian Nasional (UN) dan kebijakan tidak tinggal kelas bagi sekolah dasar. (JIBI/Solopos/Ardiansyah Indra Kumala)

Senin, 9 Desember 2013 17:13 WIB | Himawan Ardhi Ristanto/JIBI/Solopos |

Solopos.com, SOLO--Kebijakan penghapusan Ujian Nasional (UN) SD dan penghapusan tinggal kelas merupakan terobosan terbaru dari Kemendikbud di pengujung 2014.

Kebijakan ini cukup mencengangkan di awal, lantaran wacana yang dilemparkan pemerintah itu tak diimbangi kecepatan birokrasi menjelaskan kebijakan baru ini. Terobosan ini pun sempat menimbulkan pro dan kontra.  Kalangan guru pun sempat menyampaikan penolakannya. Namun kini mulai muncul juga kalangan yang mendukung kebijakan pusat ini.

Salah satunya seperti yang dilakukan SD Islam Al Fattah yang menggelar  aksi mendukung kebijakan kebijakan pemerintah menggantikan Ujian Nasional (UN) menjadi Ujian Sekolah/Madrasah (USM), Senin (9/12/2013) di pintu selatan Stadion Manahan, Solo.

Sebanyak 453 siswa berseragam sekolah dasar dan 36 tenaga kependidikan di sekolah ini juga menyuarakan dukungan pada penghapusan aturan tinggal kelas. Mereka membawa aneka poster dalam aksi yang dimulai pukul 08.15 WIB ini.

Kepala SD Islam AL Fattah, Warsito Adnan, saat ditemui wartawan disela-sela aksi, Senin, mengatakan aksi diikuti siswa kelas I hingga kelas VI. Pihaknya menyuarakan dukungan kepada pemerintah terkait terobosan baru pemerintah itu. Ia beranggapan UN yang selama ini telah berlangsung, banyak mengandung unsur kecurangan dan pemaksaan. Bahkan terkadang  pihaknya harus mengikuti ujian nasional siswa harus dikarantina terlebih dahulu.

“Dengan UN lalu masih banyak manipulasi yang dapat dilakukan. Kompetensi anak pinggiran dan anak perkotaan tentu tak merata enggak bisa disama-samakan. Kami mendukung program pmerintah pusat,” ujarnya.

Ia mengungkapkan UN bukan segala-galanya sehingga tak bisa siswa bersekolah bertahun-tahun tetapi kelulusan hanya ditentukan dalam hitungan hari tertentu. ”UN itu sangat spekulatif,  kami sepakat dengan kebijakan 25 persen soal dari nasional  sebagai tolak ukur pusat, dan 75 persen soal dari sekolah,” ujar dia.

Ihwal dihapuskannya kebijakan tinggal kelas, lanjutnya, pihaknya juga mendukung. Ia bahkan mengaku telah menerapkan kebijakan tak ada tinggal kelas tujuh tahun terakhir. ”Guru tak usah merasa bakal membebani saat anak tak mampu dinaikan karena  kurikulum sudah dirampingkan, beban anak pastinya sudah dikurangi. Guru tinggal ikuti standar dasar saja,” ujar dia.

Sementara itu siswa kelas VI SD Islam Al Fattah, Sita Nur Aisiyah, 12, mengatakan merasa senang dengan dihapuskannya UN dan digantikan USM. “Sepertinya lebih gampang, apalagi saya belum persiapan UN. Insyaallah Mei ujiannya,” ujar dia.

Siswa kelas IV, Fatih Naufal Abiyu, 8, mengungkapkan senang karena tak ada lagi tinggal kelas.”Senang juga semua naik kelas,” ujarnya santai.